Paradigma Prototyping memang betul-betul cocok untuk klien yang awam IT

Begitulah memang adanya, terciptanya methode pengembangan perangkat lunak berjenis prototyping memang ditujukan untuk keperluan tersebut. Hal ini memang kami buktikan di lapangan (masyarakat nyata), ketika harus menghadapi klien Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemerintah DIY. Ketika ketemuan dengan beberapa tokoh penting yang berkaitan langsung dengan pengambil kebijakan untuk unit kerja masing-masing, mereka memang mengalami kesulitan untuk mentransformasikan layanan yang selama ini mereka kerjakan ke model layanan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Begitu pula upaya untuk memberikan pemahaman kepada mereka tentang apa, di mana, mengapa, dan bagaimana tentang Digital Government Services (DGS) Bidang Nakertrans DIY sungguh merupakan suatu perjuangan. Pak Djun dan tim DGS DIYnya berjalan begitu cepat, namun titik-titik penting di sisi pelaku layanan yang akan ditransformasikan penuh dengan hambatan. Memang usaha yang harus diikuti dengan kesabaran dan keuletan, tanpa mengenal putus asa.

Hari ini pukul 08:00 WIB tim kami, pengembang salah satu aplikasi yang akan diimplementasikan sebagai perwujudan dari dukungan terhadap pelaksanaan DGS Bidang Nakertrans melaporkan progress report untuk yang kedua kalinya. Pertemuan kedua ini lebih intensif dan terfokus pada kebutuhan dasar dari unit kerja yang bersangkutan dibanding dengan pertemuan pertama kemarin yang audennya adalah seluruh unit kerja. Pertemuan kedua ini juga akan didemokan hasil pengembangan berupa aplikas web kepada mereka untuk dimintai reviewnya sekaligus ingin menangkap “kebutuhan” apa yang tersembunyi dibalik benak mereka dengan berpedoman pada KAK yang telah disepakati bersama.

Semoga mereka memahami apa yang menjadi “kebutuhan” mereka dan tidak terbias oleh “keinginan”nya saja.

Scroll to top
error: Salam TIF-UAD